blog ini dipindahkan ke kuliaheru.blogspot.com!

88%

We'll notify you when the site is live:

Maintenance Mode is a free coming soon/under construction blogger template from NewBloggerThemes.com. Maintenance Mode blogger template has jQuery countdown timer, progress bar, tabbed view section, email subscription box and twitter follow and share buttons. You can go to Edit HTML replace this with your own words. For more free blogger templates, visit NewBloggerThemes.com.
Copyright © Emaridial Ulza | Published By Gooyaabi Templates | Powered By Blogger
Design by ThemeFuse | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com

About

Featured Posts

Featured Posts

Featured Posts

    Posted by: Admin Posted date: Januari 11, 2018 / comment : 0



    Problem kemiskinan di satu sisi dan kehampaan spiritual di sisi yang lain menjadi pembuka jalan bagi munculnya persoalan-persoalan baru di internal umat Islam. berdasarkan catatan dari Bank Dunia, meskipun dinilai telah mencapai pertumbuhan ekonomi impresif pasca krisis finansial pada pertengahan 1990-an serta masuk kategori "emerging middle-income country”, masalah kemiskinan masih menghantui negara kepulauan terbesar di dunia ini. Data Bank Dunia menunjukkan sekitar 28 juta penduduk masih berada dalam kategori  hidup miskin. Yang lebih mencemaskan, sekitar 40% dari warga Indonesia, kalau diterjemahkan dengan angka sekitar 100 juta orang berpotensi  akan menghadapi kemiskinan. Data terbaru  Kekayaan per orang meningkat 6 kali lipat selama periode 2000- 2016. Namun menurut standar internasional, kekayaan rata-rata orang di Indonesia masih rendah. Setengah aset kekayaan di Indonesia dikuasai hanya 1% orang terkaya. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin di Indonesia mencapai 49%, yang menempatkan Indonesia di posisi keempat negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia (dw:.2017).
    Hal mendasar terjadinya kemiskinan adalah masih rendahnya tingkat ekonomi (standar hidup layak), kesehatan (umur panjang dan hidup sehat), dan pendidikan (Pengetahuan) di Indonesia yang menjadi variabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM) (BPS:2017). Berdasarkan data dari United Nations Development Programmee (UNDP)  IPM Indonesia 2016 berada pada peringkat 113 dari 118 negara, sedangkan pada tahun 2015 indonesia berada di peringkat 110. Hal ini tentu menjadi permasalahan yang harus menjadi perhatian untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dengan Negara lain (UNDP: 2017).
    Salah satu cara untuk meningkatkan pembangunan di Indonesia adalah dengan menggerakan filantropi islam. Kekuatan filantropi di agama islam menjadi fondasi awal pergerakan islam yang begitu besar. Filantropi sebagai salah satu modal yang  telah menyatu di budaya masyarakat Indonesia. Tradisi filantropi dilestarikan melalui pemberian derma kepada teman, keluarga dan tetangga yang kurang beruntung. Filantropi juga merupakan salah satu unsur dalam ajaran agama yang memperhatikan masalah duniawi terutama masalah kemiskinan. Secara fungsional, agama memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, baik bagi masyarakat tradisional maupun modern, agama merupakan tempat mereka mencari makna hidup, sehingga segala bentuk perilaku dan tindakan selalu berkiblat pada tuntutan agama (way of life). Dengan menyumbang sejumlah uang untuk sekelompok fakir miskin yang sedang membutuhkan, maka perbuatan menolong orang yang sedang membutuhkan adalah tindakan mulia. Tidak mengherankan muncul lembaga-lembaga filantropi, seperti Lembaga Amil Zakat (LAZ), LAZISMU, LAZISNU, Badan Amil Zakat (BAZ), Rumah Zakat, Dompet Dhu’afa, dll (Suherman;2016).
    Jawa Tengah adalah salah satu provinsi penggerak filantropi terbesar di Indonesia bahkan dunia. Data yang dirilis oleh LAZISMU Jawa Tengah pada bulan ramadhan berhasil mengumpulkan uang  37  Milyar. Angka tersebut adalah angka fantasistis yang  bisa di kumpulkan hanya dalam waktu 1 bulan melalui lembaga filantropi yang baru berdiri  ini. Bahkan di satu kabupaten seperti Purbalingga, Solo, dan banyumas berhasil mengumpulkan uang 1 milyar/ kabupaten. Angka filantropi di Jawa Tengah tentu belum termasuk di lembaga-lembaga lainnya seperti Badan Amil Zakat (BAZ), Rumah Zakat, Dompet Dhu’afa, dll.  Dengan hasil filantropi yang dikumpulkan tersebut di gunakan untuk membantu pendidikan, ekonomi, dan juga biaya kesehatan di Indonesia khususnya Jawa Tengah. Dari dana filantropi tersebut terlihat bahwa gerakan filantropi islam bisa menjadi penggerak pembangunan  sosial di Indonesia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, terlihat perlunya di lakukan penelitian tentang Strategi Pemberdayaan Pembangunan Sosial Melalui Gerakan Filantropi Islam. Penelitian ini mengacu pada tema induk yang dirumuskan dan ditetapkan dalam Rencana Induk Penelitian (RIP) Uhamka tahun 2016 - 2020 dalam bidang keilmuan non kependidikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Tema induk yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu berupa kajian sosial dan humaniora untuk pengembangan ilmu. Penelitian yang dilakukan ditujukan untuk mendukung riset nasional yang berkaitan dengan pengembangan strategi pemasaran kelautan.\

    icon allbkg

    Tagged with:

    Next
    Posting Lebih Baru
    Previous
    This is the last post.

    Tidak ada komentar:

    Leave a Reply

Labels

How you can get top grades, to get a best job.

How you can get top grades, to get a best job.
Untuk selanjutnya kuliah dan informasi pindah ke blog kuliaheru.blogspot.com

BTemplates.com

Popular Posts

Site Links

Blogroll

banner

untuk selanjutnya bahan kuliah dan informasi pindah ke blog www.kuliaheru.blogspot.com

Kamis, 11 Januari 2018

PENGANTAR EKONOMIKA



Problem kemiskinan di satu sisi dan kehampaan spiritual di sisi yang lain menjadi pembuka jalan bagi munculnya persoalan-persoalan baru di internal umat Islam. berdasarkan catatan dari Bank Dunia, meskipun dinilai telah mencapai pertumbuhan ekonomi impresif pasca krisis finansial pada pertengahan 1990-an serta masuk kategori "emerging middle-income country”, masalah kemiskinan masih menghantui negara kepulauan terbesar di dunia ini. Data Bank Dunia menunjukkan sekitar 28 juta penduduk masih berada dalam kategori  hidup miskin. Yang lebih mencemaskan, sekitar 40% dari warga Indonesia, kalau diterjemahkan dengan angka sekitar 100 juta orang berpotensi  akan menghadapi kemiskinan. Data terbaru  Kekayaan per orang meningkat 6 kali lipat selama periode 2000- 2016. Namun menurut standar internasional, kekayaan rata-rata orang di Indonesia masih rendah. Setengah aset kekayaan di Indonesia dikuasai hanya 1% orang terkaya. Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin di Indonesia mencapai 49%, yang menempatkan Indonesia di posisi keempat negara dengan tingkat kesenjangan tertinggi di dunia (dw:.2017).
Hal mendasar terjadinya kemiskinan adalah masih rendahnya tingkat ekonomi (standar hidup layak), kesehatan (umur panjang dan hidup sehat), dan pendidikan (Pengetahuan) di Indonesia yang menjadi variabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM) (BPS:2017). Berdasarkan data dari United Nations Development Programmee (UNDP)  IPM Indonesia 2016 berada pada peringkat 113 dari 118 negara, sedangkan pada tahun 2015 indonesia berada di peringkat 110. Hal ini tentu menjadi permasalahan yang harus menjadi perhatian untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dengan Negara lain (UNDP: 2017).
Salah satu cara untuk meningkatkan pembangunan di Indonesia adalah dengan menggerakan filantropi islam. Kekuatan filantropi di agama islam menjadi fondasi awal pergerakan islam yang begitu besar. Filantropi sebagai salah satu modal yang  telah menyatu di budaya masyarakat Indonesia. Tradisi filantropi dilestarikan melalui pemberian derma kepada teman, keluarga dan tetangga yang kurang beruntung. Filantropi juga merupakan salah satu unsur dalam ajaran agama yang memperhatikan masalah duniawi terutama masalah kemiskinan. Secara fungsional, agama memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, baik bagi masyarakat tradisional maupun modern, agama merupakan tempat mereka mencari makna hidup, sehingga segala bentuk perilaku dan tindakan selalu berkiblat pada tuntutan agama (way of life). Dengan menyumbang sejumlah uang untuk sekelompok fakir miskin yang sedang membutuhkan, maka perbuatan menolong orang yang sedang membutuhkan adalah tindakan mulia. Tidak mengherankan muncul lembaga-lembaga filantropi, seperti Lembaga Amil Zakat (LAZ), LAZISMU, LAZISNU, Badan Amil Zakat (BAZ), Rumah Zakat, Dompet Dhu’afa, dll (Suherman;2016).
Jawa Tengah adalah salah satu provinsi penggerak filantropi terbesar di Indonesia bahkan dunia. Data yang dirilis oleh LAZISMU Jawa Tengah pada bulan ramadhan berhasil mengumpulkan uang  37  Milyar. Angka tersebut adalah angka fantasistis yang  bisa di kumpulkan hanya dalam waktu 1 bulan melalui lembaga filantropi yang baru berdiri  ini. Bahkan di satu kabupaten seperti Purbalingga, Solo, dan banyumas berhasil mengumpulkan uang 1 milyar/ kabupaten. Angka filantropi di Jawa Tengah tentu belum termasuk di lembaga-lembaga lainnya seperti Badan Amil Zakat (BAZ), Rumah Zakat, Dompet Dhu’afa, dll.  Dengan hasil filantropi yang dikumpulkan tersebut di gunakan untuk membantu pendidikan, ekonomi, dan juga biaya kesehatan di Indonesia khususnya Jawa Tengah. Dari dana filantropi tersebut terlihat bahwa gerakan filantropi islam bisa menjadi penggerak pembangunan  sosial di Indonesia.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, terlihat perlunya di lakukan penelitian tentang Strategi Pemberdayaan Pembangunan Sosial Melalui Gerakan Filantropi Islam. Penelitian ini mengacu pada tema induk yang dirumuskan dan ditetapkan dalam Rencana Induk Penelitian (RIP) Uhamka tahun 2016 - 2020 dalam bidang keilmuan non kependidikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Tema induk yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu berupa kajian sosial dan humaniora untuk pengembangan ilmu. Penelitian yang dilakukan ditujukan untuk mendukung riset nasional yang berkaitan dengan pengembangan strategi pemasaran kelautan.\

Tidak ada komentar:
Write komentar

Follow us on Facebook

Popular Posts